Melihat Lautan juga Mendaki Gunung Anak Krakatau

posted on 26 Sep 2015 16:47 by mrgayahidupbaru
Di terminal Pedalaman Rambutan, terlihat sejumlah pemuda-pemudi dengan tas punggung warna-warni suka bercengkerama. Salah satunya adalah saya. Kami menunggu bus malam dengan akan membawa kami ke pelabuhan Merak. Tujuan liburan kita kali ini adalah Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda.

Masih banyak yang menyebutnya sebagai open trip gunung krakatau, padahal Krakatau sudah meletus secara hebatnya pada tahun 1883 hingga menewaskan kurang lebih 36. 000 jiwa. Saat tersebut, seluruh dunia diselimuti suasana yang saru dan mencekam. Taklimat letusannya terdengar muncul 4600 kilometer jauhnya, semburan debu vulkaniknya mencapai 80 meter dan muntahan batu vulkaniknya berhamburan ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia serta Selandia Baru.

Menurut sejarawan, Gunung Krakatau pun masih memiliki "ibu" yaitu Gunung Krakatau Purba (Gunung Batuwara) yang tatkala meletus memisahkan daratan Jawa dan Sumatera. Tepi-tepi kawah Krakatau Purba dikenal secara Pulau Rakata, Daratan Panjang dan Darat Sertung.



Kami berangkat menuju pelabuhan Merak dari terminal Pedalaman Rambutan dengan memanjat bus yang ongkosnya 17. 000 rupiah (sebelum bbm naik) pukul 23. 50 dan tiba ketuk 4. 10 subuh. Tungpeng selaku kepala rombongan langsung menghabiskan kami semua di loket kapal ASDP dan menyeberang di Bakauheuni, Lampung.

Tengah 2, 5 weker perjalanan laut, kami hanya duduk berolok-olok di dek bahtera sambil makan cemilan dan menikmati hembusan angin laut. Saking asyiknya, tidak berasa langit sudah nyata dan tahu-tahu kulit sudah tiba di Lampung.

Turun atas kapal, kami tepat mencari angkot guna disewa ke cerocok Canti, tempat yang mana kami akan dijemput oleh kapal tiang mengeksplor kawasan Anak Krakatau. Karena lapar, kami sempat habis di tengah-tengah perjalanan untuk makan pagi di sebuah warung nasi dan liat jalan lagi.

Matahari belum tinggi begitu kami tiba dalam dermaga Canti. Jam menunjukkan pukul tujuh. 40. Terlihat kapal kayu yang aku sewa sudah menuntut.

Harga sewa bahtera kayu ini kira-kira 2-2. 5 juta per kapal dengan maksimal penumpang 20 orang. Ketika diberitahu bahwa nanti di perjalanan menuju Pulau Sebesi (tempat kami menginap) kami dengan snorkeling di wilayah Pulau Sebuku, semata langsung bergegas di kamar mandi serta berganti baju renang. Sehingga ketika kami sampai di Sebuku, semuanya siap nyebuuuuuurrrr....

Berpapasan dengan warga lokal yang selagi menyeberang dari Sebesi menuju Dermaga Canti. Motor juga diangkutnya pakai kapal terkait. Saking ramahnya tersebut melambaikan tangan.

Kenyang bermain air pada Sebuku yang biru, kapal bertolak menunjukkan pulau Sebesi. Aku langsung diantarkan di guest house milik Pemerintah daerah & dibagi dua bulan, perempuan dan laki-laki. Satu kamar bisa menampung 10-20 orang2 dengan tarif 200 ribu per malam. Kalau musim perlop, rumah-rumah penduduk pula disewakan untuk wisatawan. Oh ya, listrik hanya hidup dari jam 06. 00 sore hingga 00. 00 WIB.

Comment

Comment:

Tweet